1.1 DEFINISI
KOMUNIKSI MASA
Komunikasi
massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial
ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu .
·
Joseph R. Dominick:
Komunikasi massa adalah suatu proses dimana suatu organisasi
yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin
memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang
besar, heterogen, dan tersebar.
yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin
memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang
besar, heterogen, dan tersebar.
·
Jalaluddin Rakhmat merangkum:
Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada
sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui
media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat
diterima secara serentak dan sesaat.
sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui
media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat
diterima secara serentak dan sesaat.
·
Proses komunikasi massa ala AG. Eka
Wenats Wuryanta adalah proses masyarakat menanggapi perspektif sejarah
masyarakat itu sendiri.
Dalam arti bahwa komunikasi masuk didalam suatu proses sejarah manusia. Orang membangun peradaban atau budaya dalam perspektif sejarah yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu komunikasi penting didalam seluruh proses pembudayaan tadi.
Dalam arti bahwa komunikasi masuk didalam suatu proses sejarah manusia. Orang membangun peradaban atau budaya dalam perspektif sejarah yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu komunikasi penting didalam seluruh proses pembudayaan tadi.
·
Definisi komunikasi massa yaitu sebagai
suatu proses yang secara simultan diperuntukkan untuk penduduk yang besar dan
dalam skala yang sangat besar melalui media massa.
·
Komunikasi dengan masyarakat secara luas
(komunikasi Massa) Pada tingkatan ini kegiatan komunikasi ditujukan kepada
masyarakat luas. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat dilakukan melalui dua cara
:Komunikasi massa Yaitu komunikasi melalui media massa seperti radio, surat
kabar, TV, dsbnya.Langsung atau tanpa melalui media massa Misalnya ceramah,
atau pidato di lapangan terbuka.
·
Komunikasi massa, yaitu komunikasi
dengan sasarannya kelompok orang dalam jumlah yang besar, umumnya tidak
dikenal.
Komunikasi masa yang baik harus :
Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele
Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami
Bentuk gambar yang baik
Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio) .
Komunikasi masa yang baik harus :
Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele
Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami
Bentuk gambar yang baik
Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio) .
·
Komunikasi massa menurut Elizabeth –
Noelle Neuman yang membedakannya dengan komunikasi interpersonal, yaitu
pertama, bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis. Kedua,
bersifat satu arah (one flow communication), artinya tidak ada interaksi
antarpeserta komunikasi. Ketiga, bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada
publik yang tidak terbatas dan anonim. Keempat, memiliki unsur publik yang
secara geografis tersebar (Rakhmat, 1999 : 189).
·
Georg Gerbner memberi pengertian
komunikasi massa dengan sebuah definisi singkat yaitu sebagai produksi dan
distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang
berkelanjutan serta paling luas dipunyai orang dalam masyarakat industri
(Rakhmat, 1999 : 188).
Karakteristik Komunikasi Massa menurut
para pakar komunikasi:
·
Komunikator Melembaga (Institutionalized
Communicator) atau Komunikator Kolektif (Collective Communicator) karena media
massa adalah lembaga sosial, bukan orang per orang.
·
Pesan bersifat umum, universal, dan
ditujukan kepada orang banyak.
Menimbulkan keserempakan (simultaneous) dan keserentakan (instantaneos) penerimaan oleh massa.
Menimbulkan keserempakan (simultaneous) dan keserentakan (instantaneos) penerimaan oleh massa.
·
Komunikan bersifat anonim dan heterogen,
tidak saling kenal dan terdiri dari pribadi-pribadi dengan berbagai karakter,
beragam latar belakang sosial, budaya, agama, usia, dan pendidikan .
·
Umpan Balik Tertunda (Delayed Feedback)
atau Tidak Langsung (Indirect Feedback); respon audience atau pembaca tidak
langsung diketahui seperti pada komunikasi antarpribadi.
Karakteristik Media Massa:
·
Publisitas, yakni disebarluaskan kepada
publik, khalayak, atau orang banyak.
·
Universalitas, pesannya bersifat umum,
tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat, juga
menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak
(masyarakat umum).
·
Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya
harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
·
Kontinuitas, berkesinambungan atau
terus-menerus sesuai dengan priode mengudara atau jadwal terbit.
·
Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti
informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dan sebagainya. Aktualitas
juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada publik.
Referensi :
Dennis McQuail, Teori Komunikasi Massa: Suatu
Pengantar, Erlangga, Jakarta, 1987; William R. Rivers at.al., Media Massa dan
Masyarakat Modern: Edisi Kedua, Prenada Media, Jakarta, 2003; Winarni,
https://communicationdomain.wordpress.com/2010/12/17/definisi-komunikasi-massa/
1.2 TEORI KOMUNIKASI MASA
Oleh ASM.
Romli
Teori komunikasi massa berintikan pengaruh pemberitaan media massa (media effect) kepada publik –menunjukkan pengaruh media terhadap masyarakat.
Teori komunikasi massa berintikan pengaruh pemberitaan media massa (media effect) kepada publik –menunjukkan pengaruh media terhadap masyarakat.
1. Teori
Peluru Magis (Magic Bullet Theory, Hypodermic Needle Theory)
- Media massa mengubah atau mengendalikan perilaku publik.
- Publik tidak berdaya menerima berondongan “peluru” media (pemberitaan).
- Media massa memiliki kekuataan perkasa, komunikan dianggap pasif.
- Dikemukakan Wilbur Schramm tahun 1950-an, namun dicabut kembali tahun 1970-an karena ternyata publik tidak pasif.
2. Teori
Proses Seleksi (Selective Processes Theory)
- Public cenderung melakukan “terpaan seleksi” (selective exposure) dan menolak pesan yang berbeda dengan keyakinan mereka.
- Penerimaan selektif mengurangi dampak media.
3. Teori
Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)
- Pemirsa meniru apa yang mereka lihat di televisi melalui proses “pembelajaran hasil pengamatan” (observational learning), misalnya menggandrungi kehidupan glamour seperti di televisi.
4. Teori
Difusi Inovasi (Innovation Diffusion Theory)
- Dikemukakan Everett M. Rogers.
- Media berperan menyebarkan pesan-pesan sebagai ide, karya, atau objek yang dianggap baru.
- Media mempengaruhi publik untuk mengadopsi atau menolak sesuatu yang baru atau berbeda.
5. Teori
Kultivasi (Cultivation Theory)
- Media, khususnya TV, merupakan sarana belajar tentang masyarakat dan kultur kita; juga belajar tentang dunia, orang-orangnya, dan adat kebiasaannya.
- Televisi mempengaruhi ide penonton tentang gambaran dunia.
6. Teori
Langkah (Step Flow Theory)
- Pengaruh media massa berlangsung melalui tahapan-tahapan atau langkah.
- Terdiri dari (1) Teori Satu Tahap –One Step Flow, media langsung menjangkau/mempengaruhi komunikan, (2) Teori Dua Tahap – Two Step Flow, pengaruh media melalui pihak ketiga, yakni “pemimpin opini” (opinion leader) yang lebih dipercaya publik, dalam situasi yang lebih pribadi, (3) Teori Banyak Tahap –Multistep Flow, pengaruh media mengalir bolak-balik dari media ke khalayak, kembali ke media, dan kembali ke khalayak, dst.
7. Teori
Penggunaan dan Pemenuhan (Uses and Gratification Theory)
- Publik menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya.
- Menggambaran bagaimana publik menggunakan media untuk memuaskan berbagai kebutuhan hidupnya.
- Audiens proaktif dan mencari media yang dapat memenuhi kebutuhannya.
- Publik memilih apa yang mereka ingin lihat atau baca.
- Media bersaing untuk memenuhi kebutuhan individu publik
8.
Teori Kritis (Critical Theory)
- Concerned with distribution of power in society and the way in which certain elements are dominated by others
- Media can create symbols and images that dominate or opress certain groups
- Frankfort School (Adorno), Entertainment industry manufactures demand, places emphasis on material goods and consumption for the benefit of the few rich magnates.
9.
SPIRAL OF SILENCE THEORY
- Elisabeth Noelle-Neumann
- The media publicises opinion that is mainstream or fringe
- Individuals who perceive their own opinion is accepted will express it, whilst those that don’t supress their views
- People adjust their opinions according to their perceptions to avoid being isolated
- Innovators, change agents and the avant-garde don’t mind being isolated so are unafraid to voice differring opinions.
Referensi:
- Dennis McQuail, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 1987.
- William R. Rivers at.al., Media Massa dan Masyarakat Modern: Edisi Kedua, Prenada Media, Jakarta, 2003.
- Winarni, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, UMM Press, 2003.
- “Mass Communication Theories”, Brian Brown, www.aber.ac.uk.*
1.3 UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI
Posted: Maret 30, 2012 in Uncategorized
Komunikasi antar
manusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada
orang lain tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau
didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima, dan efek . unsur-unsur ini
bisa juga disebut komponen atau elemen komunikasi.
- Sumber, Semua peristiwa komunikasi akan melinatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim ineormasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebut source, sender, atau encoder.
- Pesan, Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata massage, content atau informasi (Hafied Cangara, 2008;22-24).
- Media, Media adalah alat sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, media yang paling dominan dalam berkomunikasi adalah pancaindra manusia seperti mata dan teliga. Pesan-pesan yang diterima pancaindra selanjutnya diproses dalam pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan. Akan tetapi, media yang dimaksud dalam buku ini, ialah media yang digolongan atas empat macam, yakni: Media antarpribadi, untuk hubungan perorang (antarpribadi) media yang tepat digunakan ialah kurir /utusan, surat, dan telpon. Media kelompok, Dalam aktivitasa komunikasi yang melibatkan khlayak lebih dari 15 orang, maka media komunikasi yang banyak digunakan adalah media kelompok, misalnya, rapat, seminar, dan konperensi. Rapat biasanya digunakan untuk membicarakan hal-hal penting yang dihadapi oleh suatu organisasi. Seminar adalah media komunikasi kelompok yang biasa dihadiri 150 orang. Konferensi adalah media komunikasi yang dihadiri oleh anggota dan pengurus dari organisasi tertentu. Ada juga orang dari luar organisasi, tapi biasanya dalam status peninjau. Media publik, kalau khalayak lebih dari 200-an orang, maka media komunikasi yang digunakan biasanya disebut media publik. Misalnya rapat akbar, rapat raksasa dan semacamnya. Media massa, jika khalayak tersebar tanpa diketahui di mana mereka berada, maka biasanya digunakan media massa. Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi (Hafied Cangara, 2008;123-126).
- Penerima, Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelempok, partai atau negara. Penerima biasa disebut dengan berbagai macam istilah, seperti khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak adanya penerima jika tidak ada sumber. Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima oleh penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang sering kali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan, atau saluran.
- Pengaruh atau efek, Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini biisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan (Hafied Cangara, 2008;22-27).
1.4 CONTOH
PERMASALAHAN KOMUNIKASI MASA
·
Salah
satu elemen media massa yang menunjukkan tingkat keberdayaan audiens/khalayak
dalam berinteraksi dengan media massa adalah filter atau “perangkat” penyaring
nilai-nilai yang ditawarkan media. Pertanyaannya adalah bagaimana cara
mengoptimalkan filter tersebut, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
optimalisasinya? Beri analisis secukupnya!
Cara mengoptimalkan filter media massa adalah dengan bersikap adil dalam
menyaring nilai-nilai yang ditawarkan media. Karena nilai itu relatif sifatnya,
maka tidak memandang berat sebelah pada kelompok tertentu. Lebih baik lagi jika
diambil jalan yang nantinya tidak akan merugikan tiap kelompok.
Faktor yang mempengaruhi optimalisasi filter media adalah keegoisan
pihak-pihak tertentu dalam mempengaruhi filter media massa demi pemenuhan
kebutuhan pribadinya. Karena adanya kepentingan, pihak-pihak yang berkemampuan
bisa saja mengabaikan sebagian kelompok masyarakat, karena merasa sebagian yang
lain cukup mampu memenuhi kebutuhannya.
Contohnya adalah film-film indonesia, yang meski telah dinyatakan lulus
sensor, namun ketika tayang tetap saja ada adegan-adegan porno yang tidak layak
untuk dipertontonkan. Mengingat pula negara Indonesia memiliki Undang-Undang
terkait itu. Hal ini terjadi, karena masyarakat penikmat film memang cenderung
lebih menyukai film yang memiliki unsur porno. Karenanya sebagian dari pihak
media beranggapan bahwa jika itu dihilangkan, akan mengurangi nilai hasil yang
didapat. Padahal tidak sedikit juga film yang bermoral baik dan sehat yang
menghasilkan untung banyak.
Oleh sebab itu, demi menghilangkan kebiasaan buruk masyarakat penikmat
film Indonesia tersebut, pihak media perlu untuk lebih kreatif lagi dalam
berkarya. Sehingga menghasilkan suatu karya yang mengandung nilai moral yang
baik, yang nantinya akan berdampak positif pada masyarakat. Dengan demikian,
media juga tidak akan kesulitan dalam menyaring nilai-nilai dari apa yang
ditawarkannya.
·
Mengapa
media massa tidak sepenuhnya dan selamanya bersikap idealis dalam menyampaikan
informasi kepada masyarakat?
Karena dalam pengerjaannya, terdapat pengaruh dari masyarakat besar yang
terdiri dari kelompok-kelompok tertentu seperti politisi, pengusaha, dan lain-lain
yang memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya. Belum lagi media
juga tetap berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pribadinya. Sehingga selain
menyampaikan informasi sesuai dengan bagaimana adanya. Tidak jarang juga media
memanipulasi suatu berita untuk kepentingannya. Hal ini biasa dilakukan oleh
wartawan yang sengaja membesar-besarkan suatu berita, agar berita tersebut
tetap aktual, hingga wartawan tidak kesulitan dalam mencari berita. Namun tidak
hanya oleh wartawan, para atasan media yang memiliki kepentingan pribadi juga
bisa berbuat demikian, seperti Surya Palo sebagai pemilik metro TV yang
memanfaatkan medianya untuk mempromosikan dirinya dalam pemilu, atau lebih dari
itu, ia dapat menyengajakan adanya pemberitaan yang buruk dari kandidat lain.
·
Buat
formulasi (skema) proses komunikasi massa yang efektif, berikut analisisnya!
Stimulasi
Adanya sumber yang
terstimulasi untuk menyampaikan pesan, bisa berasal dari emosi/hal-hal yang
dapat diindra.
·
Encoding oleh Komunikator
Sumber pesan
menempatkan pikirannya ke dalam simbol-simbol yang dapat dipahami oleh siapapun
yang menjadi tujuan pesan. Wujudnya bisa berupa ucapan, tulisan, atau gambar.
·
Isi Pesan
Berisi informasi
atau hiburan.
·
Produksi pesan.
Pesan dikodekan
hingga cocok dengan alat/media yang akan digunakan untuk transmisi.
·
Analisa Pesan oleh Gatekeeper
Gatekeeper
memutuskan mana yang akan disiarkan dan mana yang tidak. Mereka mengambil
keputusan tentang apa yang harus lebih ditonjolkan, serta menyortir untuk
memilih informasi mana yang cocok untuk dipublikasi.
·
Regulator
Tahap ini hanya
akan ada jika apa yang disampaikan masih dirasa tidak pantas untuk disebarkan
oleh pemerintah atau kelompok-kelompok penekan.
·
Transmisi Pesan.
·
Decoding oleh Komunikan
Dalam tahap
penerimaan pesan ini, sebelum sampai pada komunikan, pesan ditangkap oleh media
yang digunakan, barulah komunikan merekonstruksi pesan itu.
·
Internalisasi
Jenis decoding
lanjutan dalam komunikasi massa, yakni orang memahami pesan yang telah
dikodekan.
·
Feecback bisa dihasilkan ketika pesan tersebut telah internalisasi, atau ketika
masih direkonstruksi. Namun, yang lebih sering adalah ketika sudah
diinternalisasi, karena pada tahap ini orang sudah benar-benar memahami pesan.
·
Apa
langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam mendorong
media massa menjadi media penyalur informasi yang beretika dan bermartabat?
Dalam elemen komunikasi massa, kita mengenal satu elemen yang disebut
dengan regulator, yakni orang nonmedia dan institusi nonmedia yang mempengaruhi
pesan komunikasi massa sebelum pesan sampai ke tujuan. Di sini cukup jelas
bahwa masyarakat terutama pemerintah memiliki hak/wewenang dalam melakukan
sensor terhadap informasi yang disampaikan media massa.
Sebenarnya, arti penting sekaligus tugas dari media massa adalah sebagai
penyalur/sumber informasi dan hiburan yang disampaikan pada masyarakat luas.
Namun, dewasa ini media massa sudah banyak tersentuh oleh unsur politik dari
kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kepentingan masing-masing. Hingga
tidak sedikit informasi yang sampai pada masyarakat, sebelumnya telah disetting
oleh kelompok-kelompok tersebut.
Kunci pertama yang
perlu dipegang jika ingin mendorong media massa menjadi media penyalur
informasi yang beretika dan bermartabat adalah dengan tidak memanfaatkan media
demi kebutuhan pribadi baik oleh pemerintah ataupun masyarakatnya. Hal yang
demikian jika diteruskan, selain mengakibatkan perpecahan antar kelompok,
menjadi tidak adil juga bagi masyarakat kecil, karena akan terpengaruh oleh
media yang notabenenya adalah demi pemenuhan kebutuhan oleh kelompok-kelompok
tertentu.
Kunci kedua, kembali pada media massa itu sendiri, yang harus sadar akan
tugas utamanya dengan tidak hanya mementingkan ego pribadi. Masyarakat dan
media itu saling membutuhkan, masyarakat butuh informasi yang disediakan media
massa, dan media massa butuh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhannya. Namun,
ada hal yang perlu digaris bawahi, yakni sangat salah jika media massa hanya
berfokus pada pemenuhan kebutuhannya, itu akan berdampak pada segala cara yang
dibenarkan media massa dalam melaksanakan tugasnya. Padahal jika media massa
dapat bersikap jujur, beretika dan bermartabat dalam menyampaikan informasi,
maka kebutuhan tersebut akan terpenuhi dengan sendirinya.
·
Pilih
salah satu teori komunikasi massa berikut ini, Jarum Hipodermik, Uses and
Gratification, Agenda Setting, dan Teori Kultivasi, kemudian lakukan analisis
kontekstual dengan cara:
1.
Mencontohkan
kasus/fenomena broadcasting/advertising yang menggambarkan aplikasi teori
tersebut.
Salah satu contoh gambaran aplikasi kasus/fenomena broadcasting dari
teori ini adalah program acara sinetron yang seragam yang pernah diputar
televisi swasta Indonesia. Seperti Yusra dan Yumna, Putri yang Ditukar,
Karunia, dan lain-lain. Masing-masing sinetron tersebut membahas konflik antara
orang tua dan anak. Dan lagi sinetron Pernikahan Dini, Terpikat, dan
Tersanjung, yang masing-masing konfliknya adalah kehamilan di luar nikah.
Ada juga dibeberapa
film yang menyajikan adegan-adegan yang tidak selayaknya menjadi konsumsi
publik seperti ciuman, ritual ke dukun, seks bebas, dll.
2.
Menganalis
kesesuaian (relevansi) antara teori dengan fenomena yang Anda contohkan.
Teori kultivasi (cultivation theory) yang dikenalkan oleh Profesor
George Gerbner ini menyatakan bahwa televisi menjadi media atau alat utama di
mana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur di
lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak seseorang
tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya,
melalui kontak dengan televisi, seseorang belajar tentang dunia,
orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya.
Terkait dengan contoh kasus di atas, para pecandu berat televisi akan
mengatakan bahwa di masyarakat sekarang banyak gejala tentang hamil di luar
nikah karena televisi lewat sinetronnya banyak atau bahkan selalu menceritakan
kasus tersebut. Pendapat ini tidak salah, hanya saja terlalu menggeneralisir ke
semua lapisan masyarakat. Yakni adanya gejala hamil di luar nikah itu memang
benar, namun mengatakan bahwa semua gadis sudah hamil di luar nikah itu salah.
Hal ini dikarenakan para pecandu sinetron itu sangat percaya bahwa apa yang
terjadi pada masyarakat itulah seperti yang dicerminkan dalam
sinetron-sinetron.
Termasuk di sini konflik antara orang tua dan anak. Benak penonton akan
mengatakan bahwa saat ini semua anak memberontak kepada orang tua dikarenakan perbedaan
antara keduanya. Mereka yakin bahwa televisi adalah potret sesungguhnya dunia
nyata. Padahal dalam kenyataannya, tidak sedikit anak-anak yang masih hormat
atau bahkan selalu mengiyakan apa yang dikatakan orang tuanya.
3.
Membuat
kesimpulan analisis/asumsi.
A.
Semakin
banyak seseorang menghabiskan waktu untuk menonton televisi, semakin kuat
kecenderungan orang tersebut menyamakan realitas televisi dengan realitas
sosial.
Dunia nyata (real world) di sekitar penonton dipersamakan dengan dunia
rekaan yang disajikan televisi. Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat
dikatakan bahwa penonton mempersepsi apapun yang disajikan televisi sebagai
kenyataan sebenarnya. Namun teori ini tidak menggeneralisasi pengaruh tersebut
berlaku untuk semua penonton, melainkan lebih cenderung pada penonton dalam
kategori heavy viewer (penonton berat), yakni mereka yang menonton televisi
lebih dari 4 jam tiap harinya. Mereka duduk di depan televisi dalam kurun waktu
yang cukup lama tanpa peduli apakah tayangan televisi yang mereka saksikan
merupakan acara yang mereka suka/perlukan ataukah tidak. Karenanya, mereka
sangat mudah terpengaruh oleh isi tayangan televisi.
B.
Terpaan
pesan televisi yang terus menerus menyebabkan pesan tersebut diterima khalayak
sebagai pandangan konsensus masyarakat.
Terpaan televisi yang intens dengan frekuensi yang kerap dan terus
menerus serta disiarkan lebih dari satu program televisi membuat apa yang ada
dalam pikiran penonton televisi sebangun dengan apa yang disajikan televisi.
Karena alasan ini kemudian mereka menganggap bahwa apapun yang muncul di
televisi merupakan gambaran kehidupan sebenarnya, yakni gambaran kehidupan yang
disepakati secara konsensual masyarakat. Dalam konteks ini berarti, jika
penonton melihat orang hamil di luar nikah, atau melihat adegan ciuman di
antara dua orang yang masih pacaran dalam sebuah film maka penonton akan
menganggap hal itu lumrah saja terjadi di kehidupan nyata di lingkungannya.
C.
Televisi
membentuk kemampuan memantapkan dan menyeragamkan berbagai pandangan di
masyarakat tentang dunia di sekitar mereka serta mengimplikasikan pengaruh
pesan media dalam persepsi realita, jadi apa yang masyarakat lihat di televisi
adalah apa yang akan mereka lihat di dunia nyata.
http://evamasy.blogspot.com/2012/05/contoh-permasalahan-dalam-komunikasi.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar